Teks: Samuel Sariputra Satar | Foto: Vienda Garnida, Aurelia Putri Khoiri, dan Samuel Sariputra Satar

 

Pada hari, Jumat, 14 Maret 2025, Program Studi Desain Interior BINUS Jakarta menyelenggarakan. Presentasi dan Mini Class untuk membahas teknik berkayu & lem dalam Industri Furnitur. Ada dua pengisi acara yang kebetulan berpengalaman, yakni Pak Tommy Suryadi dan Pak Marques Darmawan. Mereka memberikan kuliah secara mendalam mengenai lem kayu, cara jawabannya, dan penggunaan mesin perkayuan. Acaranya dimulai dari masing-masing pengisi acara memberikan materi pengenalan LEM PRESTO yang disampaikan oleh Pak Tommy. Lem ini adalah salah satu merek perekat terkemuka dan familiar di dunia furnitur & konstruksi. Lem Presto memiliki daya rekat yang kuat dan tahan lama, serta tersedia dalam berbagai varian produk untuk setiap jenis material yang ada.

 Gambar 1.1. Pak Tommy menyampaikan penjelasan mengenai materi terkait LEM PRESTO

Dalam presentasi, Pak Tommy memperkenalkan empat varian utama dari LEM PRESTO yaitu, Presto B1, Presto B2, Presto B3, dan Presto B4. Setiap varian ini memiliki karakteristik khusus. Presto B1 adalah untuk kepemilikan kayu ringan dan MDF serta daya perekat yang cepat kering. Presto B2 adalah untuk plastik dan bahan pori-pori halus, yang memberikan kemampuan masuk micro gap permukaan. Selain itu, agar suatu produk Presto B dapat diterapkan dengan maksimal, Pak Tommy merekomendasikan Presto B3 untuk kaca, logam, dan keramik dengan daya rekat lebih kuat. Sedangkan Presto B4 adalah varian dari produk tersebut yang memiliki daya rekat paling kuat, biasa digunakan untuk bahan berat atau kondisi tertentu yang terdiri dari sambungan yang kuat, salah satunya dapat diaplikasikan untuk beberapa furnitur besar atau konstruksi yang memiliki tekanan tinggi. Presto B42 Indonesia, terdiri dari dua komponen yaitu hardener dan base, dalam penggunaanannya dua komponen tersebut dicampurkan terlebih dahulu agar dapat dioleskan dan hasilnya lebih menyatu.

Gambar 2.1. Produk Lem Presto

 

Agar lem dapat mengering dengan baik dan membentuk lapisan rekat yang kuat, proses pengadukan ini sangat penting. Pak Marques melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang berbagai jenis lem. Salah satu metode yang dijelaskan adalah lem satu muka, yang berarti lem hanya dioleskan pada satu sisi bahan. Jika dipadukan dengan tekanan menggunakan mesin press, teknik ini sangat efektif; lem menyebar secara merata dan masuk ke pori-pori material dengan sempurna. Ia juga menggaris bawahi betapa pentingnya melakukan sanding, atau pengamplasan, setelah lem digunakan. Proses ini membuat permukaan menjadi lebih rata, yang memungkinkan lem melekat sepenuhnya tanpa meninggalkan residu yang mengganggu hasil akhir. Pak Marques juga menawarkan lem polyurethane (PU), yang sangat baik untuk menempel pada logam tetapi terbatas pada lingkungan yang sangat basah.

Gambar 3.1. Tata cara menggunakan lem dan mesin press

 

Untuk kayu yang basah, lem PU tidak akan berfungsi secara optimal tanpa persiapan khusus. Maka dari itu, jika menggunakan kayu kering, permukaan kayu tersebut perlu dibasahi terlebih dahulu agar lem PU 3 dapat menempel dengan baik. Lem PU juga tidak tersedia dalam ember karena sifatnya yang mudah mengering. Oleh karena itu, untuk menjaga kualitasnya, lem ini dikemas dalam botol. Peserta dikenalkan dengan lem epoxy, yang dikenal memiliki kekuatan rekat yang luar biasa, selama sesi berikutnya. Lem ini terdiri dari dua bahan utama: resin dan hardener, yang dicampur dalam rasio satu per satu, misalnya seratus gram hardener dicampur dengan seratus gram resin. Material yang membutuhkan kekuatan tambahan, terutama dalam kondisi ekstrim seperti suhu atau kelembapan tinggi, sering disambungkan dengan lemen epoxy.

Untuk membuktikan mutu lem yang digunakan, peserta diajak melakukan pengujian dengan beberapa metode. Salah satunya adalah metode perendaman dalam air dingin, yang bertujuan untuk menguji ketahanan lem dalam kondisi basah. Selain itu, peserta juga melakukan pengujian dengan cara memanaskan material yang telah dilem dalam oven, untuk mengamati bagaimana lem bereaksi terhadap suhu yang tinggi. Selain itu, Pak Marques mengarahkan peserta untuk mencoba berbagai jenis lem seperti DN, DWR, dan PU pada berbagai jenis kayu dalam berbagai kondisi. Pengujian ini menggunakan kayu meranti karena teksturnya yang berpori besar membuatnya sulit untuk digunakan dengan lem. Ini memberi peserta pelajaran penting tentang bagaimana memilih lem yang tepat untuk karakteristik kayu yang digunakan.

 

Gambar 4.1. Pengeleman dan pemasangan

 

Sebagian dari workshop ini yang paling menarik adalah sesi praktik. Peserta memiliki kesempatan untuk mencoba langsung berbagai alat perkayuan yang biasa digunakan dalam industri furnitur. Peserta mencoba Miter Saw, yang dapat memotong kayu dengan sudut yang presisi untuk membuat bingkai. Mereka juga mencoba Table Saw, yang dimaksudkan untuk membelah kayu dengan hasil potongan yang 4 lurus. Peserta juga diajarkan cara menggunakan bor untuk memasang sekrup dan mengebor lubang yang memudahkan pemasangan paku dengan lebih cepat dan efektif.

Gambar 5.1. Peserta mahasiswa menggunakan bor Untuk memasang sekrup

Pak Marques menunjukkan dalam sesi ini cara menggunakan Miter Saw Sliding, yang memerlukan prosedur khusus untuk mencegah kerusakan pada mesin. Agar mesin tidak terlalu berat, disarankan untuk menarik pisau terlebih dahulu, kemudian memotong kayu secara bertahap. Peserta juga diberi pengetahuan tentang pentingnya memahami sudut potongan Miter Saw, seperti sudut 31.6° untuk potongan segi lima dan 25.5° untuk potongan segi enam. Untuk mengakhiri sesi workshop, peserta mencoba teknik finishing dengan Protego, produk berbasis minyak (oil-based) yang melindungi permukaan kayu dan membuatnya terlihat lebih baik. Protego dikenal memiliki hasil akhir yang halus dengan kesan kayu yang lebih natural.

 

Gambar 6.1. Peserta mahasiswa memotong kayu menggunakan Miter Saw

 

Melalui acara ini, para mahasiswa Desain Interior BINUS Jakarta mendapatkan wawasan yang sangat berharga tentang dunia perkayuan, mulai dari pemilihan lem yang tepat, teknik aplikasinya, hingga 5 penggunaan mesin perkayuan yang efisien. Diharapkan mereka dapat menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang mereka peroleh pada proyek kreatif yang berbeda di masa depan, sehingga mereka dapat membuat furnitur yang tidak hanya indah tetapi juga kokoh dan tahan lama.

 

Gambar 7.1. Hasil produk

Gambar 8.1. Dokumentasi peserta mahasiswa, dosen, dan pembicara