Akulturasi Budaya Nusantara pada Gereja Katolik Santo Stefanus, Cilandak
Dalam sebuah proses perancangan karya arsitektur dan desain interior dilakukan penyesuaian terhadap konteksnya. Dengan melihat sebuah konteks maka timbul batasan – batasan terhadap sebuah rancangan. Konteks sebuah tempat selalu berhubungan dengan budaya setempat. Budaya adat istiadat tidak terlepas dari sistem kepercayaan, sehingga para misionaris yang menyebarkan agama melakukan penyesuaian terhadap Masyarakat setempat Agama katolik dalam penyebaran agamanya di Nuasantara cukup banyak melakukan penyesuaian budaya stempat, terlihat dari beberapa karya arsitektur yang berakulturasi dengan budaya setempat.
Gereja Katolik St. Stefanus di Cilandak Adalah salah satu contoh akulturasi budaya Nusantara khususnya Jawa dalam arsitektur bangunan Gerejanya. Arsitektur bangunannya mengadopsi rumah Joglo . Dengan Desain interior mempunyai layout altar di tenagh degan empat soko guru ( Empat Kolom utama ) terbuat dengan katu jati . dihiasi dengan ukiran ukiran khas Jawa dengan altar di tengah, soko guru, ukiran kayu jati, serta ornamen khas Jawa.
Image 1. Terlihat Gereja dengan Arsitektur Rumah Joglo (Christianto R, 2025)
Image 2. Altar di tengah bangunan dengan 4 Soko Guru (Christianto R, 2025)
Image 3. Soko Guru sebagai Elemen Utama pada Desain Interior (Christianto R, 2025)
Image 4. Desain pada Plafon, juga menggunakan gaya joglo dengan ukiran Jawa (Christianto R, 2025)
Image 5. Detail Ukiran Jawa pada Soko Guru (Christianto R, 2025)
Comments :