Teks: Siti Chadijah  

 

Semua buku dalam review ini dapat ditemui dan dibaca di tempat di Laboratorium Desain Interior BINUS University Kampus Kemanggisan (Syahdan), Jakarta.

Dalam dunia desain, khususnya praktik pada tata ruang dalam kerap kita temui aplikasi anyaman, baik pada elemen ruang pada dinding, ceiling, maupun produk interior seperti kursi, dekorasi, atau sebagai aksen cerminan ekspresi pada ruang. Bentuknya dapat bervariasi mengikuti langgam ataupun penggayaan dari konsep ruang yang diusung, misalnya meminjam bentuk anyaman dari daerah tertentu, atau mengkreasikan ulang anyaman dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Di era yang didominasi teknologi digital ini, pengkayaan akan suber-sumber pengetahuan kerap memanfaatkan data yang tersedia di berbagai situs sebagai acuannya. Namun, perlu kita ingat bahwa sumber-sumber tersebut tidak sepenuhnya merujuk pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih dalam konteks membuat rancangan desain yang membutuhkan riset yang mendalam, sesekali kita perlu memperkaya referensi dari bahan bacaan berupa buku ataupun catatan antropologis di masa lampau, khususnya bagi riset desain berbasis kebudayaan seperti penerapan anyaman.

 

  • Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda- Anyaman” karya J.E Jasper dan Mas Pirngadie

Buku yang termasuk di dalam seri masterpiece Buku Kerajinan di Hindia Belanda ini menceritakan perjalanan seorang pegawai Pemerintahan Hindia Belanda bernama J.E Jasper didampingi oleh Mas Pirngadie, ahli lukis dari Tanah Jawa pada tahun 1906-1912 melakukan penelitian melalui perjalanan menelusuri karya kerajinan di seantero Nusantara. Sebagai bagian dari penelitian, buku ini mendokumentasikan eksplorasi anyaman, batik, tenun, emas dan perak, serta logam mulia. Sementara itu menurut Sandra Niessen dalam  “Menyusuri Jejak Penelitian Jasper dan Pirngadie”, terdapat catatan seputar kerajinan kulit, tembikar, dan kayu yang tidak pernah diterbitkan dan ada kemungkinan musnah terbakar saat Perang Dunia kedua. Buku seri ini diterbitkan kembali pada 2017 oleh Dewan Kerajinan Nasional. Menariknya, buku ini tidak hanya menangkap dokumentasi berupa narasi, tapi juga sketsa dan beberapa gambar yang diambil selama perjalanan mereka, dan disajikan dengan detail dan belum ada catatan lain yang menyajikan data lengkap seputar kerajinan di Nusantara selepas terbitnya buku ini pertama kali di antara tahun 1912 dan 1927. Oleh karenanya, buku ini patut dijadikan sumber acuan dan referensi penelitian desain maupun perancangan  interior yang mengeksplorasi kekayaan anyaman Nusantara.

 

Gambar 1. Tampilan sampul buku karya JE Jasper dan Mas Pirngadie

 

  • Plaited Arts from the Borneo Rainforest” karya Bernard Sellato

Berbicara tentang anyaman, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari suku- suku yang berdiam di seluruh wilayah Indonesia. Dari merekalah eksistensi anyaman terus tumbuh dan berkembang, tak lekang oleh waktu, meskipun dalam fungsinya mendapat banyak interfensi dan pergeseran. Ialah Bernard Sellato, seorang antropolog dan peneliti yang mendedikasikan waktunya dengan meneliti di ruang-ruang pedalaman Borneo. Menurut Sellato dalam “ La vannerie à Bornéo : fonctions sociales, rituelles, identitaires“, anyaman merupakan salah satu keterampilan dasar yang dimiliki manusia dalam bertahan hidup. Suku Dayak yang berdiam di wilayah Pulau Kalimantan merupakan salah satu suku dengan pengetahuan lokal anyaman amat lengkap. Di dalam buku  yang diterbitkan tahun 2012 ini Sellato menyajikan data, narasi antropologis dalam catatan pertemuan, serta visual berupa foto-foto yang dapat membuat pembaca memahami nilai, fungsi, karakteristik, kategori, dan sumber daya yang tersedia di sekitar tempat tinggal Suku Dayak, sampai akhirnya kita mengerti pantaslah pengaruh besar dari bentang alam, nilai spiritual, dan ketekunan Suku Dayak dalam menganyam membuatnya mampu menghasilkan ragam kerajinan anyam yang sangat beragam jumlah, jenis, maupun bentuk dan fungsinya. Buku ini sangat direkomendasikan untuk para perancang interior yang sedang mengeksplorasi kekayaan anyaman Suku Dayak di Kalimantan (baik itu wilayah yang masuk ke dalam Indonesia maupun Malaysia).

Gambar 2. Tampilan sampul buku karya Bernard Sellato

 

 

  • Kalimantan Membangun” karya Tjilik Riwut dan “Di pedalaman Borneo: perjalanan dari Pontianak ke Samarinda” karya Dr. Anton W. Niewenhuis pengantar oleh DR. Koentjaraningrat

Terakhir, kedua buku ini bukan merupakan buku yang spesifik berbicara tentang anyaman maupun desain, melainkan catatan perjalanan yang disajikan dalam bentuk buku berisi sketsa, foto-foto hitam-putih, dan narasi panjang yang menggambarkan keadaan Borneo sebelum tahun 1900an hingga awal masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Tjilik Riwut, seorang Gubernur Kalimantan Tengah (1958–1967) sekaligus pahlawan Nasional, menuliskan buku tentang Kalimantan di awal masa kemerdekaan. Sebagai seorang keturunan Dayak Ngaju, Tjilik Riwut memiliki perspektif yang berbeda memandang pembangunan di Kalimantan. Ia menyajikan catatan dari pengalaman empiris sebagai putra daerah. Selain menjabarkan dengan sangat lengkap persebaran suku-suku Dayak di Wilayah Kalimantan, Tjilik Riwut juga menceritakan hal-hal keseharian dari suku Dayak, seperti karakteristik hingga kebiasaan dan perilaku serta sikapnya.

Membaca “Kalimantan Membangun” tidak dapat dilakukan sekali jalan. Ada baiknya membaca buku ini bersama dengan buku “Di Pedalaman Borneo”, sebuah catatan perjalanan yang dilakukan oleh Dr. Anton W. Niewenhuis, seorang berkebangsaan Belanda yang juga seorang dokter militer, ethnografer, dan pemimpin ekspedisi yang ikut dalam perjalanan di pedalaman Kalimantan. Dalam buku ini Niewenhuis menceritakan dirinya yang ikut dalam rombongan dan berperan sebagai dokter, namun pengalaman ini memberikan banyak hal yang belum pernah diungkapkan sebelumnya tentang suku Dayak yang berdiam di sepanjang sungai Kayan-Mahakam. Dalam ekspedisi ini rombongan Niewenhuis didampingi beberapa orang yang berasal dari suku-suku Dayak yang ditemuinya. Karena dilakukan pada tahun 1894, buku ini lebih banyak bercerita seperti buku harian dan disertai sedikit foto-foto penting seperti artefak benda keseharian, peralatan rumah tangga, jenis anyaman dan perkakas, ritual, alat cacah (tattoo), keadaan rumah suku Dayak, serta beberapa foto petinggi suku Dayak dan Kutai.

Uniknya, membaca kedua buku ini akan membuat kita merasa terhubung karena pembahasan dalam kedua buku ini seolah saling menjelaskan satu dengan yang lainnya. Kedua buku ini sangat direkomendasikan sebagai pegangan bagi perancangan berbasis kehidupan asli Suku Dayak di Kalimantan.

Gambar 3. Tampilan sampul buku karya Tjilik Riwut dan Dr. Niewenhuis