Book Review : Interior Design is not Decoration and Other Ideas
Banyak pihak yang melihat dunia desain interior hanya sebatas pada menghias ruang atau memilih furnitur dan warna yang menarik untuk sebuah ruangan. Namun, Buku “Interior Design Is Not Decoration and Other Ideas” melihatnya sebagai kritik terhadap pemahaman tersebut. Pada buku ini terdapat beberapa penjelasan yang berkaitan dengan profesi desain interior, yang merupakan bidang yang mencakup berbagai aspek, termasuk perilaku manusia, psikologi ruang, fungsi, budaya, dan pengalaman spasial.
Buku yang di tulis oleh Stephanie Travis dan Catherine Anderson di tahun 2025 ini relevan bagi mahasiswa dan dosen desain interior karena menawarkan perspektif teoritis tentang apa artinya desain interior di era modern. Tidak hanya membahas sudut estetika, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang bagaimana sudut pandang desain sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah dan berpikir kritis.
Pernyataan bahwa “interior design is not decoration” adalah salah satu ide utama yang dibahas dalam buku ini. Pemikiran bahwa desain interior berbeda dengan dekorasi didasarkan pada kalimat tersebut. Sementara desain interior mencakup perencanaan ruang secara keseluruhan, termasuk ergonomi, fungsi, sirkulasi, pencahayaan, material, dan kenyamanan pengguna, desain dekorasi lebih berfokus pada aspek visual dan estetis.
Penulis menyatakan bahwa ruang interior memiliki dampak yang signifikan terhadap tindakan dan perasaan manusia. Sebuah ruang yang baik dapat meningkatkan produktivitas, kesehatan mental, interaksi sosial, dan bahkan ikatan budaya pengguna. Oleh karena itu, sebelum menentukan bentuk visual ruang, seorang desainer interior harus memahami kebutuhan manusia dengan baik.
Selain itu, juga membahas hubungan antara desain interior dan konteks sosial serta fungsi ruang. Di tekankan bahwa ruang dapat berfungsi sebagai representasi identitas masyarakat. Pembicaraan ini sangat penting untuk pendidikan desain interior di Indonesia karena siswa seringkali terlalu terfokus pada tren global dan melupakan nilai lokal.
Gambar 2. Media_ culture ( Project: How should We life ? Propositions for the modern interior, Location: MoMA, New York, NY,US
Selain itu, buku ini membahas proses berpikir desain, yang menekankan bahwa seorang desainer interior bukan sekadar “penghias ruangan”; mereka lebih dari itu, mereka adalah pemecahan masalah yang mampu menginterpretasikan kebutuhan manusia ke dalam solusi spasial. Pendekatan ini sangat cocok untuk mahasiswa desain interior karena membantu mereka memahami bahwa kualitas desain diukur dari efektivitas ruang untuk memenuhi kebutuhan pengguna dan keindahan visual.
Pendekatan kritis dan filosofis buku ini terhadap desain interior adalah keunggulan utamanya. Pembaca dapat belajar dari buku ini bahwa desain interior adalah bidang akademik dengan dasar teori yang kuat dan bukan sekadar kemampuan teknis.
Gambar 3. Media + Culture (Designer: Mojang Studios, Project: Minecraft Lobby)
Beberapa bagian mengandung istilah konseptual yang cukup mendalam, tetapi bahasa yang digunakan relatif mudah dipahami. Buku ini dapat menjadi pengantar penting bagi mahasiswa tingkat awal untuk memahami paradigma desain interior secara lebih luas.
Keunggulan tambahan adalah kemampuan buku ini untuk mengaitkan teori dengan situasi dunia nyata. Terdapat berbagai contoh bagaimana pengalaman manusia dipengaruhi oleh desain interior dalam ruang publik, hunian, dan komersial. Hal ini meningkatkan pemahaman pembaca tentang hubungan antara teori desain dan implementasinya di lapangan.
Banyak konsep yang kuat di dalam buku ini, tetapi lebih banyak teori daripada praktik. Pembaca yang mencari petunjuk teknis seperti gambar kerja, detail furnitur, atau instruksi desain mungkin tidak akan menemukannya di buku ini.
Selain itu, beberapa topik dalam buku ini membutuhkan pemahaman dasar tentang teori arsitektur dan desain interior. Mungkin dosen dapat menggunakan buku ini sebagai bahan diskusi di kelas untuk membantu mahasiswa memahami konteks pemikirannya.
Dalam bidang teori desain, metodologi desain, psikologi ruang, dan kritik desain interior, buku ini sangat relevan. Mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab sosial seorang desainer interior dan mengembangkan pola pikir kritis terhadap proses desain melalui buku yang mereka baca.
Buku ini dapat digunakan oleh dosen untuk memulai diskusi akademik tentang identitas profesi desain interior di tengah pertumbuhan industri kreatif saat ini. Untuk mendorong siswa untuk memahami pengalaman manusia dalam ruang dan keindahan visual, pemikiran yang disajikan dalam buku ini dapat menjadi dasar.
Buku “Interior Design Is Not Decoration and Other Ideas” dapat menjadi perhatian dan acuan bagi siswa dan dosen desain interior karena memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya desain interior baik sebagai disiplin akademik maupun pekerjaan. Pandangan umum yang menyamakan desain interior dengan dekorasi semata dikritik dengan baik dalam buku ini.
Gambar 4. Media + Culture (Designer: David Rockwell, Project: Legally Blonde: The Musical)
Buku ini membantu pembaca memahami konsep desain interior sebagai proses menciptakan pengalaman ruang yang bermakna bagi manusia melalui pendekatan teoritis, filosofis, dan berpusat pada manusia. Isi buku masih relevan dan inspiratif untuk pengembangan pendidikan desain interior saat ini, meskipun cukup konseptual.

Comments :