Teks: Siti Chadijah dan Jessica Josephine Purwadi

Foto: Nippon AYDA, Jessica J.Purwadi, Anak Agung A. Wulandari, Grace Hartanti, Christianto Roesli

Tas ransel penuh dan jaket menyelimuti saat Jessica Josephine Purwadi tiba di laboratorium Desain Interior. Embun di kacamatanya cukup menggambarkan bahwa ia bergegas hadir memenuhi janji wawancara. Ia datang dengan senyum lebar dan pembawaan yang tenang, sesi wawancara dimulai dan mengalir, sambil mengingat apa yang terjadi dua bulan silam.

Siapa yang menyangka hari itu, 13 Februari 2026, nama Jessica Josephine Purwadi (Binusian 2026), perwakilan mahasiswa Desain Interior dari BINUS University Jakarta berhasil meraih predikat Gold Winner dalam ajang Asia Young Designer Awards (AYDA). Pada tahun 2025 AYDA mengangkat tema “Converge: Crafting Cultural Legacy. Dalam menyelami tema tersebut Jessica membawa karya dengan judul “Tree of Literacy”, sebuah karya yang juga menjadi buah kenangannya bersama coach yang mendampingi Jessica selama meramu konsep tersebut, mendiang Bapak Christianto Roesli.

Melalui karyanya, Jessica berhasil meraih hati juri saat bersanding dengan mahasiswa berbakat lainnya dari Intitut Teknologi Bandung (ITB), La Salle College Jakarta, Universitas Pelita Harapan, dan BINUS University Bandung pada babak Grand Final. Baginya, pencapaian ini adalah buah dari dukungan dan dedikasi dosen pembimbing, keluarga, serta rekan-rekan di kampus yang tak henti memberi semangat. Keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus bereksplorasi dan berinovasi, agar karya-karya ke depannya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perkembangan dunia desain di Indonesia.

 

Jessica (kanan) menjadi peraih predikat Gold Winner kategori Desain Interior pada ajang AYDA 2025/26

Bagaimana proses Jessica berkarya dan apa saja persiapannya mewakili Indonesia pada babak puncak yang akan diselenggarakan di Thailand bulan Juni 2026 mendatang? Berikut wawancara Siti Chadijah (Faculty Member STR BINUS University Jakarta)  bersama Jessica Josephine Purwadi.

Bagaimana perasaannya setelah menyandang gelar Asia Young Designer 2025/26?

Lebih ke mixed feelings sih. Ga percaya tapi seneng juga, soalnya ngerjainnya cukup cepat juga. Awalnya ga menyangka akan masuk, waktu sampai ke Top 10, kok masuk, terus lanjut, masuk lagi. Bersyukur banget. Sesi coaching bareng judges nya juga very insightful.

Ada hal yang spesial dari sesi final sampai Jessica bisa meraih emas?

Kalau dari Top 10 ke Top 5 kan kita gatau karena hanya mengumpulkan video presentasi, lalu diumumkan yang masuk Top 5. Nah waktu masuk Top 5 kita jadi tahu siapa yang masuk juga. Di sana aku baru tahu kalau yang lain itu sudah  lulus kuliah. Aku juga tau mereka punya portofolio dan hasil pekerjaannya bagus-bagus, jadi sempat minder juga awalnya. Tapi mungkin karena aku didampingin pak Chris, beliau sudah nyiapin ini dari materi sampai content– nya semua lengkap dan bikin aku siap. Kalau ga ada guidance mungkin aku akan banyak kurangnya.

Jessica dalam sesi foto sebagai pemenang 1

Bagaimana proses berkarya saat lomba AYDA ini, ada hal spesial selama prosesnya?

Waktu awal mengikuti AYDA ini aku berdua sama Joce, kami agak terlambat untuk mulai coaching. Baru mulai sekitar 2-3 mingggu sebelum waktu pengumpulan. Itu juga dijalani sambil kami magang, jadi agak kelusitan mengatur waktunya, kita cuma punya waktu setelah pulang kantor magang dan weekend.

Buat brainstorming aku usahain untuk melihat referensi sebanyak mungkin dan diolah, kan bikinnya book community jadi aku coba cari user-nya siapa aja terus gimana sih experience-nya mereka kalau masuk ke fasilitas space yang aku bikin. Terus karena waktunya singkat, jadi aku ga bisa buat desain secara keseluruhan denahnya, aku fokusin ke mainarea-nya aja, ada area community yaitu area komunalnya mereka. Untuk cari konsepnya, aku diskusi sama pak Chris dan aku bisa built dari sana.

Ini adalah pencapaian Emas lagi dari BINUS Jakarta di AYDA setelah hampir 10 tahun lalu, apa yang ada di benak Jessica?

Sebenernya mixed feeling, sedih karena di hari yang sama aku dapet berita Pak Chris ga ada. Rasanya seperti, dia sudah menunggu malam itu, tapi ga sempet untuk ngeliat dan sharing the moment kemenangan kita. Karena menurutku proyek ini banyak banget kontribusinya dari pak Chris, mulai dari arahannya bahkan sampai desainnya jadi dan berbobot itu karena dia dampingin aku.

Tentang pak Chris, diskusi seperti apa yang membuat berkesan dan akhirnya menjadi jalan untuk Jess menemukan banyak hal dalam proyek ini?

Pak Chris bener-bener insightful banget, terlihat kalau dia sudah sangat berpengalaman dalam coaching lomba, dia mengarahkan kita mengerjakan ini, fokusnya ke sini, “wow factor” nya bagian ini, tapi jangan lupa juga buat tetep perhatiin space programming-nya.

Sebelum ikut ini aku juga sempet liat proses judging Ci Vania (Binusian 2025) ikut kompetisi Y.I.D, di sana aku bisa liat juri tuh kalau menilai bagian apa aja, jadi aku lebih kebayang. Dalam proses desainnya karena cuma 3 minggu, aku diskusi via WhatsApp, pak Chris juga fast respons. Pernah juga waktu itu sudah malam sehabis aku magang pak Chris rela datang untuk bertemu di Pos Bloc, sehabis hujan, macet. Aku respect sama beliau, begitu besar dedikasi beliau buat mahasiswa dan demikian cintainya beliau pada dunia desain, beliau mau mengorbankan waktunya. Kebayang hari itu pastinya capek tapi beliau masih mau menyempatkan untuk datang dan coaching lomba.

Sesi coaching terakhir Jessica bersama Bapak Christianto Roesli

Bisa diceritakan tentang konsep Tree of Literacy?

Jadi Tree of Literacy itu tempat buat komunitas buku. Ini tempatnya untuk anak-anak muda, book community; ada tempat untuk mereka kumpul bareng, bookstore yang besar dan berbobot. Jadi di perkotaan sekarang, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta, itu banyak anak muda yang balik lagi ke kebiasaan lama yaitu suka baca buku. Di sosial media seperti TikTok juga kita meliat yang sering muncul pembahasan tentang book talk, sharing buku, rekomendasi buku, reading list, saling review. Aku juga termasuk salah satu anak muda itu, yang sekarang balik ngeluangin waktu buat baca buku lagi, makanya pas diskusi sama pak Chris kita mau bikin book community aku langsung oke-in ikut AYDA ini.

Hal apa dari Tree of Literacy yang menurut Jessica menarik di mata para juri?

Kalo dari masukan juri waktu coaching session pertama sebelum final presentation, juri masih belum menangkap aku sebenarnya mau bikin apa, tujuan dari space-nya apa. Dari sana aku diminta untuk matengin konsep. Setelah aku olah sampai final presentation, mereka lihat tujuan dari proyek ini apa. Salah satu juri, Mas Ibam, cerita kalau dia pernah ketemu satu toko buku yang konsepnya mirip sama yang aku buat dan it would be nice kalau dia bisa bawa anaknya ke dalam bookstore, jadi dia ga harus kejar-kejar anaknya atau dibawa ke playground. Yang terbayang adalah tempat itu bisa jadi ruang untuk build reading habit membacajuga dari kecil. Kalau anaknya baca di corner toko buku, orang tuanya masih bisa going around di bookstore-nya, cari-cari buku yang mereka suka. Jadi fasilitasnya juga bisa buat keluarga. Kalau toko buku biasa mungkin udah ada dan banyak, tapi pengen yang juga bisa buat keluarga.

Kontribusi apa yang Jessica harapkan dengan adanya Tree of Literacy ini, baik sebagai sebuah konsep maupun sebagai fasilitas umum yang bisa dipakai publik?

Mungkin kalau harapannya aku ingin meningkatkan literasi itu susah ya karena ga mungkin cuma satu space ini bisa menjangkau semua orang. Tapi dengan adanya tempat ini, kita bisa memfasilitasi komunitas-komunitas yang ada sehingga komunitas ini terus tumbuh. Kalau komunitasnya ada tapi mereka menjalankan aktivitasnya hanya secara daring (online), tidak secara berkala, dan ga punya tempat berkumpul yang bikin mereka merasa di support, mungkin mereka lambat laun down, mati, dan stop. Dengan adanya fasilitas ini aku berharap supaya komunitas ini bisa merasa didukung dan merasa ini sebagai sesuatu yang bisa dipertahankan. Lama-lama di saat orang ngeliat ada komunitas ini dan cukup besar, orang bisa ngeliat dan mau ikut partisipasi.

Maket konsep Tree of Literacy yang diproduksi Jessica di Workshop Furnitur, Kampus Anggrek BINUS University Jakarta.

Mengerjakan proyek ini Jessica juga sambil menjalani tugas akhir. Dengan agenda AYDA yang padat dan jadwal tugas akhir juga rapat, bagaimana strategi Jessica untuk mempersiapkan semuanya? Ada dampak yang terasa  setelah mengikuti AYDA ini ke kehidupan kampus?

Aku paling berasa waktu coaching session bersama juri AYDA karena mereka itu kritis. Mungkin karena para juri memberikan input yang sangat realisitis di dunia nyata, ini bisa ga terjadi di dunia nyata? Itu jadi ngebuka wawasan. Setelah ikut AYDA aku merasa lebih kritis dan penyajian storytelling (lebih matang).

Waktu itu aku diberi masukan tentang storytellling, karena ini lomba, kita bukan cuma menjual desain tapi juga bisa nyampein ceritanya, apa yang kita jual ke masyarakat. Kalau cuma desainnya, mungkin sekarang sudah banyak studio-studio lain yang mungkin lebih jago, tapi story kenapa kita bikin ini, user-nya siapa, dan cara kita menyampaikan itu ke orang yang awam itu penting banget. Gimana kita bisa ngejual desain kita tanpa kita buat orang yang mendengarkan mengerti? Jadi mengolah storytelling ini aku belajar banget di AYDA.

Kalau untuk di tugas akhir, justru ngerasa sangat terbantu karena di AYDA lebih intensif untuk pake software, sekarang di kelas tugas akhir jadi terasa bisa mengerjakan dengan lebih cepet, dan didukung juga sama proses brainstorming-nya juga. Proyek tugas akhirku membuat Galeri Visual Cetak, jadi ngerasa banyak terbantu juga. Selain itu pengaturan phase kerja dan manajemen waktu aku juga terbantu karena aku masih kerja (lanjut di tempat magang yang dulu).

Pesan buat para BINUSIAN Interior yang di tahun-tahun mendatang ingin ikut AYDA?

Awalnya waktu kuliah awal di kampus pastinya begadang, terus masuk periode magang agak terasa “dimanja” karena lebih banyak waktu luang. Kalau sebelumnya di kampus, abis kelas selalu lanjut nugas. Di masa transisi itu aku belajar kalau sehabis kerja lalu istirahat, terasa pikirannya lebih cool down, jadi lebih enak. Di sini aku belajar tentang work life balance. Jadi untuk di AYDA ini meskipun aku sambil kerja magang dan sambil ngerjain, kalau aku ngerasa burnout dan ga bisa ngerjain lagi, aku akan take break. Di hari itu abis kerja di kantor magang aku ga kerjain, dan pas weekend baru aku kejar. Itu terbukti di aku bisa lebih fresh karena kalau di-rush akhirnya jadi ga maksimal. Mungkin susah sih sebenernya karena kadang kita harus cari waktu dan effort supaya bisa dapat hasil yang bagus tapi sebenarnya istirahat itu juga sangat penting buat kita recharge.

Aku awalnya bukan keinginan sendiri ikut AYDA ini, tapi didorong sama kampus, khususnya pak Chris  yang meyakinkan untuk maju ikut AYDA ini. Beliau bilang kalau AYDA ini lomba yang paling worth it untuk diikutin, dan menurutku itu benar, karena insight yang didapetin itu banyak. Hanya mungkin karena AYDA itu lombanya besar dan lama; mulai sosialisasi itu bulan April 2025 lalu kita kerjain sampai bulan Oktober, setelah itu kita mulai coaching seleksi penyisihan itu sampai November-Desember dan ini baru International Summit di Juni 2026. Jadi AYDA ini lomba yang long run, baru berasa kalau lombanya lama, butuh komitmen dan luangin energinya kita bisa dipakai di mana aja.

Kalau mau mencoba, it’s a win-win situation, kalau kita bisa dapet Top 10 kita bisa dapet coaching session (bareng juri) itu extra point juga, sesuatu yang keren banget. Ini juga bisa jadi pemanasan brainstorm buat bridging ke tugas akhir biar lebih mateng.

Karena ini prosesnya panjang, jangan sampai juga kita lupa sama jati diri sendiri. Kadang karena kalau lomba, kita lihat hasil desain para peserta atau pemenang sebelumnya itu gimana, jangan sampai kita terlalu ngikutin. Kadang kita berpikir kalau ide atau cara kayak gini yang dipakai atau disukai juri. Bisa aja ga begitu, bisa jadi idealisme yang kita punya itu baik, atau yang juri lagi pengen liat sesuatu yang something new. Kalau kalian punya gebrakan baru, dijalankan aja. Tapi jangan lupa istirahat.

Sesi pengumuman dan penyerahan penghargaan AYDA 2025

Supaya bisa melakukan strategi work life balance ini, apa aja tantangannya?

Aku aslinya orangnya overthinking, kalau ada pekerjaan harus (maksa) ngerjain biar abis itu bisa leha-leha full, work hard play hard. Mungkin karena udah merasakan enaknya pas magang, bisa istirahat, jadinya bisa lebih ngatur waktu dengan baik. Aku jadi tau mana prioritas, hiburan proporsinya bisa segimana yang enak, kerja juga bagimana yang enak.

Untuk meraih pencapaian ini bukan hanya ambisi, tapi juga strategi lain seperti manajemen waktu, emosional, dan mengenal diri sendiri. Bagaimana menurut Jess?

Tiap orang itu kan beda-beda, mungkin ada yang butuh waktu istirahatnya lebih cepet, ada yang lebih lama, kita harus tau sih diri kita dan menentukan kapan mau mulainya lagi. Aku ga sampai menentukan waktu jam sekian harus mulai kerja lagi sih, hanya saja, misalnya aku sudah bisa bangun mood lagi, aku akan kerjain. Karena kerjain desain itu sisi emosional nya dipakai banget, bukan cuma pakai pikiran, jadi kalau recharge dulu akan lebih efektif, dibandingkan kalau dipaksain 10 jam dipapar terus menerus tapi akhirnya mentok, ga dapet apa-apa jadinya cuma capek.

Harapan untuk performa di babak pamungkas International Summit di Thailand Juni mendatang?

Harapanku yang terbaik aja, karena ini sambil tackling tugas akhir jadi ada kekhawatiran juga. Ini juga harus di-submit tanggal 4 Mei, semua harus dikejar di bulan April yang mana ada beberapa waktu bentrok dengan evaluasi progres tugas akhir. Tapi waktu terakhir presentasi aku udah usaha untuk nyiapin materinya, semoga masih bisa dipakai, storytelling-nya masih bisa dipakai dan diperbaiki lagi dengan waktu dan energi yang tersisa, jadi akan dikelola sebaik-baiknya supaya nanti hasilnya yang terbaik bisa didapat di Thailand. Kalau memang bisa menang, Puji Tuhan. Tapi kalau belum, bisa dijadikan pengalaman karena pasti semua punya jalannya masing-masing.

Jessica menampilkan performa terbaik dalam ajang AYDA 2025/2026