Tulisan: Jannesa C. Tan dan Amanda Rizkiyah | Foto: Amarena Nediari, Reno Fanthi, Gayung Purbojati, Ulli A. Ruki, Dila Hendrassukma

Jakarta, 7 September 2026 –

Globalicious merupakan acara rutin tahunan yang diselenggarakan untuk memperkenalkan program studi yang ada di BINUS UNIVERSITY dan memberikan kesempatan untuk merasakan secara langsung fasilitas dari setiap program studi kepada siswa/siswi SMA / sederajat di Jakarta dan sekitarnya. Pada tahun ini, Globalicious mengangkat tema Clash of Campus berlangsung pada tanggal 4 – 6 September 2026 yang berlokasi di gedung kampus BINUS Anggrek, Kemanggisan, Jakarta. Tema acara ini terinspirasi dari ‘Clash of Champions’ sebuah web realitas permainan edukasi yang diselenggarakan oleh RuangGuru. 

Jurusan Interior Design juga hadir dalam acara ini sebagai salah satu kontributor untuk memperkenalkan program-programnya kepada calon mahasiswa. Teman-teman yang hadir ke booth dapat bermain permainan dan melihat secara langsung prestasi-prestasi mahasiswa-mahasiswi jurusan Interior Design. Antusiasme para calon mahasiswa terlihat sekali ketika mengikuti permainan yang diselenggarakan di booth tersebut. Terdapat dua jenis permainan yaitu board game, puzzle kursi 3D  (knockdown stool).

Pada permainan pertama, para siswa SMA yang berkunjung ke booth Interior Design akan disuguhi board game yang terinspirasi dari mata kuliah Interior Design : Residential. Para calon mahasiswa dari berbagai sekolah diberikan studi kasus klien rumah tinggal. Para calon mahasiswa diajak untuk berpikir kritis dan menyusun jenis-jenis furnitur yang dibutuhkan pada ruangan oleh klien. Kesulitan yang dialami oleh para calon mahasiswa tidak main-main karena kurangnya pengetahuan akan gambar teknik serta simbol-simbol furnitur. Walau mengalami kesulitan, mereka tetap semangat menyelesaikan permainan tersebut. Di sinilah dosen dan mahasiswa yang mendamping bertugas untuk ikut memberikan arahan sederhana mengenai sebuah layout agar lebih nyaman, memiliki sirkulasi yang baik, serta tetap sesuai dengan kebutuhan klien.

Sementara itu, pada permainan Puzzle 3D kursi atau  knockdown stool terdapat dua jenis, yaitu prototype berukuran 1:10 dan stool asli. Para calon mahasiswa di ajak untuk mencoba merakit puzzle tersebut agar terbentuk menjadi kursi dan stool yang sempurna. Selama kunjungan dan permainan berlangsung, para calon mahasiswa didampingi oleh seorang mahasiswa yang secara bergantian turut menjelaskan secara sederhana bagaimana penggunaan sambungan kayu (joint) dapat memengaruhi kekuatan dan kestabilan sebuah produk. Dari aktivitas yang terlihat sederhana tersebut, peserta dapat melihat bahwa proses desain juga memiliki sisi teknis yang tidak kalah penting dari tampilan visualnya.

 

Pengalaman di booth Interior Design juga tidak berhenti pada permainan saja. Kehadiran para mahasiswa yang bertugas juga turut memperkenalkan seperti apa sebenarnya dunia Interior Design kepada para pengunjung. Tidak sedikit calon mahasiswa yang datang dengan rasa penasaran, tetapi masih belum memiliki gambaran tentang apa sebenarnya akan dipelajari nantinya ketika memilih jurusan ini. Pertanyaan sederhana yang terlontar misalnya “Apa sih bedanya Interior Design sama Arsitektur apa ya?” atau “Kalau masuk Interior  Design nanti belajar apa aja?” menjadi awal percakapan antara mahasiswa atau dosen dengan calon mahasiswa yang berkunjung.

Melalui percakapan tersebut, kami mencoba memberikan gambaran tentang dunia Interior Design dengan cara yang lebih dekat dan mudah di pahami. Interior Design itu tidak hanya mempelajari bagaimana cara membuat ruangan terlihat indah, tetapi juga bagaimana sebuah ruangan dapat bekerja dengan baik dan nyaman sesuai fungsi bagi penggunanya. Mulai dari tata letak furnitur, mempertimbangkan sirkulasi ruangan, memilih material ataupun tone untuk ruangan tersebut, hingga yang terpenting memikirkan kenyamanan dan kebutuhan pengguna yang mana juga dapat memudahkan aktivitas apapun yang akan berlangsung dalam ruangan tersebut merupakan bagian dari proses yang ditemui dalam bidang ini. Bagi sebagian calon mahasiswa, penjelasan tersebut bisa menjadi perspektif baru karena sebelumnya Interior Design seringkali hanya dipandang dari sisi estetika.

Selain melalui aktivitas di booth, pengenalan Interior Design juga dilakukan melalui keterlibatan langsung mahasiswa atau dosen dalam rangkaian wawancara singkat Globalicious 2026. Dalam kesempatan tersebut sesi wawancara singkat bersama tim marketing acara untuk memberikan pandangannya mengenai alasan memilih Interior Design sebagai bidang studi, bahwa dalam mendesain sebuah interior dalam ruangan itu tidak hanya dibuat agar terlihat menarik atau estetik, tetapi juga tentang bagaimana memahami kebutuhan manusia dan mengimplementasikannya ke dalam ruang yang memiliki fungsi, kenyamanan, serta karakter.

Dalam dialog tersebut salah satu yang ditekankan adalah bahwa Interior Design itu tidak hanya berorientasi pada estetika. Seorang desainer juga perlu memahami siapa yang nantinya akan menggunakan ruangan, aktivitas yang berlangsung didalamnya, dan juga bagaimana ruang tersebut dapat memberikan pengalaman yang nyaman bagi penggunanya.

 

Interaksi yang berlangsung selama Globalicious 2026 membuat booth jurusan Interior Design terasa lebih dari sekadar tempat untuk memperkenalkan sebuah program studi. Setiap permainan, pertanyaan, dan percakapan menjadi cara tersendiri bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan gambaran mengenai dunia yang mungkin akan mereka masuki setelah lulus SMA. Bagi mahasiswa yang bertugas, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana hal-hal yang selama ini dipelajari di perkuliahan dapat diterapkan dan dijelaskan kepada orang lain dalam bentuk yang sederhana dan menyenangkan. 

Globalicious 2026: Clash of Campus menjadi ruang pertemuan antara calon mahasiswa dengan pengalaman nyata dunia perkuliahan. Melalui aktivitas yang interaktif dan komunikasi secara langsung, Interior Design diperkenalkan bukan hanya sebagai pilihan jurusan, tetapi sebagai bidang yang menggabungkan kreativitas, fungsi, teknologi, dan pemahaman terhadap manusia. Diharapkan pengalaman tersebut dapat membantu para calon mahasiswa menemukan gambaran yang lebih jelas mengenai bidang yang ingin mereka tekuni di masa depan.